Rabu, 07 Januari 2026

Procedure Database

Stored Procedure Database


  • Apa Itu Stored Procedure?

Stored Procedure merupakan sebuah fungsi dari SQL untuk menyimpan syntax SQL dan dapat digunakan berulang kali tanpa mengubah isi dari script tersebut. Biasanya, stored procedure digunakan untuk membuat sebuah tabel atau database yang digunakan berulang kali.  

  • Fungsi Stored Procedure

Stored procedure memiliki beberapa fungsi utama yang membuatnya banyak digunakan dalam pengelolaan database, di antaranya:

1.Meningkatkan Efisiensi

Query yang tersimpan akan dieksekusi langsung oleh server database tanpa perlu dikompilasi ulang, sehingga prosesnya lebih cepat.

2. Mengurangi Redundansi

Prosedur yang sama bisa digunakan berkali-kali tanpa menulis ulang query, sehingga lebih praktis dan konsisten.

3.Mendukung Logika Bisnis

Aturan bisnis dapat diletakkan di dalam database, misalnya validasi data atau perhitungan otomatis, sehingga aplikasi menjadi lebih ringan.

4.Mempermudah Integrasi Aplikasi

Aplikasi cukup memanggil prosedur dengan parameter tertentu tanpa harus tahu detail query yang kompleks.

5.Meningkatkan Keamanan

Administrator database bisa memberi akses hanya untuk menjalankan prosedur tertentu, tanpa membuka akses langsung ke tabel
 

  • Kelebihan Stored Procedure

Stored procedure memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya layak digunakan, seperti:

1.Efisiensi

Proses eksekusi dilakukan langsung di server database sehingga mengurangi beban aplikasi.

2.Konsistensi

Aturan bisnis dapat disimpan dalam satu prosedur dan dipanggil berulang kali, sehingga mengurangi kemungkinan perbedaan logika di aplikasi.

3.Keamanan

Akses data dapat dibatasi hanya melalui prosedur tertentu, bukan langsung ke tabel.

4.Kemudahan Pemeliharaan

Perubahan logika cukup dilakukan pada prosedur, tanpa perlu mengubah kode aplikasi di banyak tempat.

    • Langkah-Langkah Membuat Procedure Database

    1Buat database dengan nama "db_kampus", di dalamnya bikin tabel, contoh nama "dosen"



    2. Isi kolom pada tabel dosen :



    3. Lalu isi data pada tabel dosen : 


    procedur 1

    1. Pada database tbl_dosen, klik "Routines"
    2. Lalu klik Create new routine
    3. Isi seperti pada gambar berikut :



    4. Klik "Go"
    5. Lalu klik "Execute"
    6. Kosongi Value kemudian klik "Go"



    7. Hasilnya akan keluar seperti berikut : 


    procedur 2

    1. Klik Create new routine
    2. Isi seperti pada gambar berikut :
    3. Klik "Go"



    4. Lalu klik "Execute" dan isi seperti berikut :
        
    MISAL :
            P_jenis = provinsi   
            P_nama = Jawa Timur




    5. Hasilnya akan keluar seperti berikut : 




    TERIMA KASIH


Rabu, 26 November 2025

Database Arsip Perusahaan

 Sistem Arsip Digital Perusahaan


Dalam sebuah perusahaan, terutama yang bergerak di industri energy drink dengan proses produksi, pemasaran, distribusi, dan legalitas yang kompleks, keberadaan sistem arsip yang tertata rapi merupakan kebutuhan mutlak.

Melalui sistem Database Arsip Perusahaan, seluruh data dapat dikelola dengan lebih profesional, modern, dan aman. Berikut rangkuman bagaimana sistem ini bekerja dan keunggulan yang dapat diperoleh perusahaan.


1. Database


Ini merupakan database yang berisi struktur tabel berupa :
1. arsip
2. departemen
3.file_arsip
4.kategori_arsip

2. Tabel [arsip]

Ditabel [arsip] memuat kolom dan isi data seperti dibawah ini : 



3. Tabel [departemen]

Ditabel [departemen] memuat kolom dan isi data seperti dibawah ini : 



4. Tabel [file_arsip]

Ditabel [file_arsip] memuat kolom dan isi data seperti dibawah ini : 



5.Tabel [kategori_arsip]

Ditabel [kategori_arsip] memuat kolom dan isi data seperti dibawah ini : 



6. Relasi Database


1. Tabel departemen → tabel arsip
Relasi:
-One-to-Many (1 Departemen memiliki banyak Arsip)

2. Tabel kategori_arsip → tabel arsip
Relasi:
-One-to-Many (1 Kategori memiliki banyak Arsip)

3. Tabel arsip → tabel file_arsip
Relasi:
-One-to-Many (1 Arsip memiliki banyak File)

-Departemen memiliki banyak Arsip
-Kategori Arsip memiliki banyak Arsip
-Arsip memiliki banyak File Arsip
Semua relasinya adalah One-to-Many, tidak ada Many-to-Many dan tidak ada One-to-One.

7. Trigger Database

Setiap kali ada perubahan pada data arsip (misalnya update informasi), sistem akan memeriksa:
1. tanggal_upload arsip
2. Menghitung selisih umur terhadap tanggal hari ini
3. Jika umur ≥ 5 tahun → status langsung diganti menjadi diarsipkan.

Fitur ini mencegah arsip lama terlewat atau tidak terkelola.


Minggu, 07 September 2025

Trigger SQL

TRIGGER SQL

Apa Itu Trigger SQL ?

Trigger SQL adalah sebuah mekanisme otomatis di dalam sistem manajemen basis data yang akan berjalan secara otomatis ketika ada peristiwa tertentu pada sebuah tabel, seperti INSERT (penambahan data), UPDATE (perubahan data), atau DELETE (penghapusan data). Dengan adanya trigger, kita tidak perlu menuliskan perintah SQL secara manual setiap kali ada perubahan data, karena database akan langsung menjalankannya.

Fungsi Utama Trigger ?

  • Otomatisasi proses rutin di database.
  • Validasi data sebelum disimpan.
  • Menjaga log atau riwayat perubahan data.
  • Mengurangi beban aplikasi karena sebagian logika sudah ditangani di level database.
Dengan kata lain, trigger adalah asisten otomatis di database yang bekerja di belakang layar untuk memastikan data selalu benar, akurat, dan konsisten tanpa harus campur tangan manual dari programmer atau pengguna.

Contoh Trigger

1. Stok Berubah Jika Di Update


2. Stok Kembali Jika Di Hapus


3. Stok Berubah Jika DI Insert





Rabu, 27 Agustus 2025

Join Database

 JOIN DATABASE

- Apa Itu Join Database ?

  JOIN database adalah perintah dalam Structured Query Language (SQL) yang digunakan untuk menggabungkan baris-baris dari dua tabel atau lebih berdasarkan kolom atau kunci yang saling berhubungan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan satu set data yang lebih lengkap dari beberapa tabel yang terpisah, serta untuk menciptakan tabel sementara baru (temporary table) yang berisi gabungan data tersebut

- Macam Macam Join Database

1. Inner Join

Inner join merupakan penggabungan yang cukup umum digunakan, dimana pada join ini SQL hanya akan mengambil data yang beririsan saja untuk masing-masing tabel. Sementara untuk data yang tidak sama untuk kedua tabel akan diabaikan. Misalkan kita memiliki 2 table, yaitu table orders dan table customer, lalu kita ingin menggabungkan kedua tabel menggunakan INNER JOIN dengan Customer ID sebagai kata kuncinya.

2. Left Join

Jenis join selanjutnya yang juga sering digunakan oleh praktisi data adalah LEFT JOIN. Pada umumnya, konsep join yang digunakan masih sama, yaitu menggabungkan dua tabel atau lebih. Hanya saja pada left join, SQL akan menampilkan semua isi dari tabel pertama kemudian untuk data di tabel kedua akan menyesuaikan dengan kolom yang ada di tabel kedua.


3. Right Join

Konsep yang digunakan pada right join sebenarnya hampir mirip dengan konsep yang digunakan pada left join. Jika pada left join SQL akan menggabungkan data dengan mengikuti tabel pertama yang dianggap berada di kiri, maka pada right join data akan digabungkan sesuai dengan kolom yang ada pada tabel kedua.

4. Outer Join


Join selanjutnya yang bisa kamu gunakan adalah Full Join atau yang dikenal juga dengan sebutan Outer Join. Pada Outer Join, semua data baik yang ada di tabel yang ada di sebelah kiri maupun tabel yang ada di sebelah kanan akan dimasukkan semuanya. Kemudian untuk data yang kosong di masing-masing tabel akan diberi nilai Null.


Minggu, 24 Agustus 2025

Tugas Normalisasi

 Tugas Normalisasi


0NF

Contoh data di atas merupakan data yang belum dinormalisasi, selanjutnya menuju tahap normalisasi 1NF.


1NF

Suatu tabel dikatakan 1NF jika dan hanya jika setiap atribut dari data tersebut hanya memiliki nilai tunggal dalam satu baris.


2NF




Syarat 2NF adalah tidak diperkenankan adanya partial “functional dependency” kepada primary key dalam sebuah tabel.

3NF



Pada 3NF tidak diperkenankan adanya partial “transitive dependency” dalam sebuah tabel.

Rabu, 13 Agustus 2025

Normalisasi Database

Normalisasi Database


1. Pengertian Normalisasi Database

Apa Itu Normalisasi Database?

   Normalisasi database adalah proses pengelompokan atribut data yang membentuk entitas sederhana, nonredundant, fleksibel, dan mudah beradaptasi. Sehingga dapat dipastikan bahwa database yang dibuat berkualitas baik.

2. Tujuan Normalisasi Database

Tujuan utama dari normalisasi database adalah:

- Menghilangkan dan mengurangi redudansi data.
- Memastikan dependensi data (data berada pada tabel yang tepat).


Jika sebuah database belum dinormalisasi, kemungkinan terburuk yang akan merugikan sistem adalah:

a. INSERT Anomali

Situasi dimana tidak memungkinkan untuk memasukkan beberapa jenis data secara langsung di database.

b. UPDATE Anomali

Situasi dimana nilai yang diubah mengakibatkan ketidakkonsistenan database, artinya data yang diubah tidak sesuai dengan yang diinginkan.

c. DELETE Anomali

Penghapusan data tidak sesuai yang diharapkan, artinya data yang seharusnya tidak terhapus malah terhapus.

3. Database Seperti Apa Yang Bisa Dinormalisasi?

   Tidak semua database bisa dinormalisasi, hanya tipe “relational database” yang bisa dinormalisasi. Banyak vendor DBMS (Database Management System) diantaranya Oracle, MySQL, SQL Server, PostgreSQL, dll.

4. Bagaimana Cara Melakukan Normalisasi Database?

   Untuk melakukan normalisasi database kita harus mengidentifikasi data seperti apa yang akan disimpan.



Contoh data di atas merupakan data yang belum dinormalisasi, selanjutnya menuju tahap normalisasi 

1NF

   Suatu tabel dikatakan 1NF jika dan hanya jika setiap atribut dari data tersebut hanya memiliki nilai tunggal dalam satu baris.

Jadi, tabel yang belum dinormalisasi tadi perlu diubah, sehingga bentuk 1NF menjadi seperti ini



   Inti dari normalisasi 1NF adalah tidak boleh ada grouping data ataupun duplikasi data. Sekarang lanjut pada tahap normalisasi 2NF

2NF

   Syarat 2NF adalah tidak diperkenankan adanya partial “functional dependency” kepada primary key dalam sebuah tabel

Apa itu “functional dependency”?

   Functional dependency adalah setiap atribut yang bukan kunci (non key) bergantung secara fungsional terhadap primary key.

   Intinya adalah pada tahap normalisasi 2NF ini tabel tersebut harus dipecah berdasarkan primary key. Sehingga bentuk normalisasi 2NF dari tabel tersebut adalah sebagai berikut


3NF

Pada 3NF tidak diperkenankan adanya partial “transitive dependency” dalam sebuah tabel

Apa itu “transitive dependency”? Transitive dependency biasanya terjadi pada tabel hasil relasi, atau kondisi dimana terdapat tiga atribut A, B, C. Kondisinya adalah A ⇒ B dan B ⇒ C. Maka C dikatakan sebagai transitive dependency terhadap A melalui B.

Intinya pada 3NF ini, jika terdapat suatu atribut yang tidak bergantung pada primary key tapi bergantung pada field yang lain maka atribut-atribut tersebut perlu dipisah ke tabel baru.

Contohnya ada pada atribut qty, kolom tersebut tidak bergantung langsung pada primary key kode_faktur melainkan bergantung pada kolom kode_barang. Jadi setelah dinormalisasi 3NF akan menghasilkan tabel berikut:



    Dari gambar tabel di atas dapat dilihat pada tahap normalisasi 3NF menghasilkan 1 tabel baru dari hasil pemecahan tabel transaksi yaitu tabel detail barang yang isinya menampung barang-barang yang dibeli

   Kolom harga pada tabel detail barang digunakan untuk menyimpan harga barang pada saat proses transaksi. Jadi, meskipun kolom harga pada tabel barang berubah (naik/turun), harga barang yang ada pada tabel detail barang tidak ikut berubah (fixed). Bayangkan jika kita tidak menambahkan kolom harga pada pada tabel detail barang, maka yang terjadi total invoice dari transaksi akan berubah seiring berubahnya harga barang.

5. Kesimpulan

   Normalisasi database adalah proses pengaturan data agar tidak terjadi duplikasi dan ketergantungan yang salah, sehingga data menjadi lebih konsisten dan efisien. Proses ini dilakukan secara bertahap dengan memecah tabel agar setiap data hanya bergantung pada kunci utama, sehingga menghindari anomali saat memasukkan, mengubah, atau menghapus data.


Rabu, 30 Juli 2025

Penerapan ERD (Entity Relationship Diagram)

 Penerapan ERD (Entity Relationship Diagram)


1. Dokter Dan Pasien






























2. Supplier Dan Pembeli



ERD (Entity Relationship Diagram)


 ERD (Entity Relationship Diagram)




      ERD (Entity Relationship Diagram) adalah diagram yang digunakan untuk memodelkan hubungan antar entitas dalam suatu sistem basis data. ERD membantu menggambarkan struktur logis dari database, termasuk entitas (misalnya: pengguna, produk, transaksi), atribut dari entitas tersebut, dan relasi antar entitas.

A. Komponen Utama ERD

1. Entitas (Entity)

Entitas adalah objek nyata atau konsep yang datanya disimpan di dalam basis data. Bisa berupa orang, benda, tempat, kejadian, atau konsep.

  • Contoh: Mahasiswa, Dosen, Mata Kuliah, Transaksi.

  • Simbol: Persegi panjang.

  • Jenis entitas:

    • Entitas kuat (Strong Entity): Memiliki atribut kunci (primary key) sendiri.

    • Entitas lemah (Weak Entity): Tidak memiliki atribut kunci sendiri dan tergantung pada entitas lain.


2. Atribut (Attribute)

Atribut adalah properti atau karakteristik dari entitas atau relasi.

  • Contoh untuk Mahasiswa: NIM, Nama, Alamat.

  • Simbol: Elips (oval) yang dihubungkan ke entitas.

  • Jenis atribut:

    • Atribut kunci (Key Attribute): Unik untuk mengidentifikasi entitas, digarisbawahi (misalnya: NIM).

    • Atribut sederhana (Simple Attribute): Tidak dapat dipecah lagi (misal: Nama).

    • Atribut komposit (Composite Attribute): Dapat dipecah menjadi beberapa bagian (misal: Alamat menjadi Jalan, Kota, Kode Pos).

    • Atribut multivalue: Bisa memiliki lebih dari satu nilai (misalnya: Nomor Telepon).

    • Atribut turunan (Derived Attribute): Nilainya bisa dihitung dari atribut lain (misalnya: Umur dari Tanggal Lahir)


3. Relasi (Relationship)

Relasi menggambarkan hubungan antar entitas.

  • Contoh: Mahasiswa mengambil MataKuliah, Dosen mengajar MataKuliah.

  • Simbol: Belah ketupat (diamond).

  • Relasi bisa memiliki atribut juga (misalnya: nilai pada relasi Mahasiswa–Mengambil–MataKuliah).


4. Kardinalitas (Cardinality)

Kardinalitas menunjukkan jumlah minimum dan maksimum keterlibatan entitas dalam suatu relasi.

  • Jenis kardinalitas:

    • One to One (1:1): Satu entitas berelasi dengan satu entitas lainnya.



    • One to Many (1:N): Satu entitas berelasi dengan banyak entitas lainnya.



    • Many to Many (M:N): Banyak entitas berelasi dengan banyak entitas lain.



5. Primary Key (Kunci Utama)

Atribut unik yang digunakan untuk mengidentifikasi setiap entitas secara unik.

  • Contoh: NIM untuk entitas Mahasiswa, KodeMK untuk entitas MataKuliah.

  • Simbolisasi: Digarisbawahi dalam diagram.


6. Foreign Key (Kunci Tamu)

Atribut yang digunakan untuk menunjuk ke primary key entitas lain, biasanya muncul dalam implementasi basis data relasional.


B. Tujuan Penggunaan ERD

1.Memodelkan struktur data

2.Perencanaan desain database

3.Komunikasi antara tim

4.Dokumentasi sistem

5.Membantu pembuatan basis data relasional

6.Identifikasi kebutuhan data

C. Contoh Sederhana ERD


      [Mahasiswa] --- (Mengambil) ---> [MataKuliah]
                |                                                        |
           (NIM)                                           (KodeMK)
          (Nama)                                          (NamaMK)



- Mahasiswa mengambil Mata Kuliah

- Setiap Mahasiswa bisa mengambil banyak MataKuliah, dan satu Mata Kuliah bisa diambil
banyak Mahasiswa (relasi M:N).




Sir Ardhan © 2008 Template by:
SkinCorner